Tips Menjadi Pasien Bawel
Bawel yang saya maksud di sini adalah banyak bertanya. Menurut pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Semakin enggan pasien bertanya, dan semakin sedikit kepedulian dokter untuk mendidik pasiennya, maka semakin tersesatlah si pasien di dunia kesehatan. Jelas2 pasien itu yg rugi.
Berdasarkan pengalaman pribadi dan cerita2 orang2 di sekitar saya, saya melihat ada beberapa masalah seputar kesehatan masyarakat dan hubungan dokter-pasien di Indonesia.
Pertama, pasien tidak cukup mengerti penyakit yang dideritanya. Yang dia tahu adalah dia punya penyakit gula. Kalau kadar gula terlalu tinggi tidak baik, terlalu rendah juga tidak baik. Dia tahu pantangan2nya. Dan dia mengerti gejala2 yang dirasakan jika kadar gula tidak dalam batas normal. Tapi batas nominalnya berapa kemungkinan dia tidak tahu, entah tidak mau tahu atau merasa yg penting dokter tahu. Dalam banyak kondisi kesehatan, pasien menyerahkan masalahnya sepenuhnya kepada dokter, ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita.
Kedua, seberapa kepedulian dokter pada kesehatan pasiennya, bisa dipertanyakan. Dokter, seperti juga kebanyakan pasien, merasa hanya dialah yang perlu tahu kondisi si pasien. Tidak jarang, saya menemukan dokter yang tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya. Dengan sedikit informasi dari pasien, sedikit periksa (bahkan kadang tanpa menyentuh pasien), dia bisa menulis resep. Kalau tidak ditanya untuk apa obat2 itu, pasien tidak akan tahu obat2 apa saja yang diberikan padanya. Tidak jarang saya menemukan dokter memberi resep obat untuk gejala yang tidak saya alami. Melihat ini, saya jadi meragukan apa tujuan pelayanannya. Apalagi melihat antrean representatif dari perusahaan2 obat yang dengan setia menanti giliran ketemu sang dokter.
Masalah ketiga, yang diturunkan dari kedua masalah di atas adalah minimnya komunikasi antara pasien dan dokter. Sang pasien merasa dokter maha tahu dan dirinya hanyalah orang yang tidak (perlu) mengerti apa2. Sang dokter pun seringkali berpendapat sama, dia tidak merasa perlu menjelaskan apa2 kepada pasien, dan kalau ditanya dijawab sekenanya. Dalam hitungan menit pasien dipersilahkan keluar dengan resep obat di tangan. Alhasil di akhir konsultasi si pasien tidak lebih mengerti tentang kondisi kesehatannya.
Tentunya yang paling dirugikan dalam hubungan dokter-pasien seperti ini adalah sang pasien. Bagaimana tidak, dia kan yang sakit, yang merasakan penderitaan, dan yang harus keluar uang juga. Apa jadinya kalau ternyata uang yang dikeluarkan ternyata tidak meringankan penderitaannya? Karena itu sangatlah aneh jika pasien tidak mau mempelajari kondisi kesehatannya sendiri.
Karena itu, saya ingin memberi sedikit tips untuk sesama orang awam yg bukan praktisi kesehatan untuk belajar, setidaknya masalah kesehatan sendiri dan orang2 yg kita sayangi:
1. Sewaktu pemeriksaan, dokter tentu akan menanyakan gejala2 yang diderita. Tanyakan pada dokter, kira2 apa yang menyebabkan gejala2 seperti itu. Jawaban dokter mungkin mengira2 karena dokter kan bukan Tuhan ya, jadi mungkin tidak selalu bisa menjawab dengan pasti. Tapi setidaknya melalui tanya jawab spt itu, Anda bisa belajar sedikit tentang tubuh Anda dan cara kerjanya. Sesudah pemeriksaan, tanyakan pada dokter kira2 apa diagnosanya, apa penyebabnya, dan apa yang harus Anda lakukan untuk menghindari masalah yang sama (pola makan, gaya hidup, dll). Yg utama dari langkah ini adalah, Anda harus keluar dari ruang dokter dengan pengetahuan lebih mengenai kondisi Anda dibandingkan sewaktu Anda masuk.
2. Jika dokter menulis resep, tanyakan obat2 apa saja yg diberikan. Jika ada yang Anda rasa tidak perlu, Anda bisa bilang, misalnya, “Dok, obat penahan rasa sakit ga perlu dok, ga terlalu mengganggu kok.” Atau, “Obat turun panasnya di rumah masih ada, Dok, pake yg itu aja.” Dokter tentunya mengerti Anda ingin berhemat. Selain itu, bisa Anda tanyakan juga efek samping dari obat2 yg diresepkan, yang mana yg harus dihabiskan, dan pantangan2 lain. Jika Anda enggan menanyakan perihal obat2an ini pada dokter, Anda bisa konsultasi dengan apoteker sebelum menebus obat.
3. Untuk obat2an, pasti di rumah kita masing2 ada setumpuk obat2an misterius karena dari apotik seringkali tidak ditulis apa namanya, apa fungsinya, kapan tanggal kadaluwarsanya. Lain kali mintalah informasi tersebut. Jika perlu sisipkan sendiri kertas kecil bersih dengan informasi tersebut ke dalam kantong obat, jadi jika ada sisanya, sekali waktu Anda perlu, Anda tidak perlu beli lagi di apotik. Kenali obat2an yang Anda miliki di rumah.
4. Jika Anda menjalani rawat inap, seringkali dokter yang memeriksa datang dan pergi begitu cepat. Lain kali persiapkan pertanyaan2 agar Anda bisa “mencegatnya” dan mendapat informasi perkembangan kesehatan Anda. Suster2 juga seringkali punya cukup pengetahuan untuk memberi penjelasan pada Anda, tapi sekali lagi Anda harus bertanya. Begitu juga dengan obat2an, infus, dan lain2.
5. Jika Anda diminta memeriksakan darah ke laboratorium, rontgen atau scan2 lain ke bagian radiologi, hasil pemeriksaan adalah hak Anda. Pihak klinik atau rumah sakit mungkin akan menyimpannya dalam berkas kesehatan Anda, hal ini tidak masalah. Tapi sewaktu Anda mengambil hasil2 tersebut, Anda boleh melihatnya sebelum ke dokter. Seringkali hasil2 tersebut dilampirkan surat dari pihak lab atau radiologi yang menyatakan adanya kelainan atau tidak. Untuk tes darah, ada kolom hasil tes, dan ada kolom nilai normal. Dari situ Anda bisa melihat kondisi Anda seperti apa, dan ini bisa Anda tanyakan kepada dokter, misalnya “dok, yg ini keliatan angka saya di bawah normal. Artinya apa, dok?” Tes lab lain dan radiologi, surat lampiran biasa mencantumkan ringkasan hasil, ini pun bisa Anda tanyakan ke dokter apa maksudnya dan adalah kewajiban dokter untuk menjelaskan kepada Anda.
6. Jika pelayanan satu dokter tidak memuaskan bagi Anda, jangan ragu mencari dokter lain. Dokter kan juga manusia, bisa salah, bisa ngawur, bisa juga benar. Jika Anda ragu, carilah pendapat dokter lain. Jika sudah ada dokter yang Anda cocok, usahakan tidak pindah2 lagi, karena dokter itu mungkin sudah lebih mengerti dengan kondisi Anda dibandingkan dokter2 lain.
Demikian sedikit tips dari saya, mudah2an membantu Anda. Jika Anda punya teman, tetangga, karyawan yang kurang mampu, ajarkan juga tips2 ini, karena merekalah yang seringkali kesulitan jika mereka atau anggota keluarga mereka sakit. Dana kesehatan mereka sangat terbatas, karena itu akan sangat membantu jika dana itu dapat digunakan seefisien mungkin. Tentunya dalam tulisan ini saya tidak ingin mendiskreditkan profesionalisme para dokter. Banyak dokter2 yg bagus dan sangat peduli pada pasiennya. Justru dari dokter2 yg profesional-lah saya merasa banyak belajar bagaimana menjadi pasien yang baik.








